Prstasi Terhenti di Gerbang Kampus Ketika Biaya UKT Menghalangi Masa Depan
27 Jun 2026 15:072 min read125 viewsBy Edy elison, SH, CJBSource: Nusantara News
Share berita ini
Link berhasil disalin.
Prstasi Terhenti di Gerbang Kampus Ketika Biaya UKT Menghalangi Masa Depan
Pendidikan untuk Siapa ? Refleksi di Balik 60.000 Mahasiswa Gagal Daftar Ulang
Prestasi Terhenti di Gerbang Kampus Ketika Biaya UKT Menghalangi Masa Depan
Oleh : Edy elison, SH, CJB
Ketua PJS Ogan Ilir
Fenomena sekitar 60.000 calon mahasiswa yang dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) namun tidak melakukan daftar ulang menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Salah satu faktor yang paling banyak disorot adalah tingginya besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi sebagian keluarga.
SNBP merupakan jalur seleksi yang mengapresiasi prestasi akademik siswa. Namun, ketika kesempatan yang telah diperoleh dengan kerja keras akhirnya tidak dapat dimanfaatkan karena keterbatasan biaya, muncul pertanyaan besar mengenai sejauh mana akses pendidikan tinggi benar-benar berpihak kepada semua kalangan.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah dan menengah, besaran UKT yang mencapai jutaan rupiah per semester, ditambah biaya hidup, tempat tinggal, dan kebutuhan penunjang kuliah, menjadi beban yang sulit dipenuhi. Akibatnya, banyak calon mahasiswa memilih mengundurkan diri meskipun telah berhasil lolos seleksi.
Kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan perguruan tinggi. Penetapan UKT perlu lebih transparan, adil, dan benar-benar mempertimbangkan kondisi ekonomi mahasiswa. Selain itu, perluasan beasiswa, bantuan pendidikan, serta mekanisme pengajuan keberatan UKT harus lebih mudah diakses agar tidak ada mahasiswa berprestasi yang kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Pendidikan bukan sekadar investasi pribadi, tetapi investasi bangsa. Jika biaya menjadi penghalang utama bagi generasi muda berprestasi, maka Indonesia berpotensi kehilangan sumber daya manusia unggul yang seharusnya menjadi motor pembangunan di masa depan.
Sudah saatnya persoalan UKT tidak hanya dipandang sebagai urusan administrasi kampus, melainkan sebagai isu keadilan sosial. Prestasi seharusnya membuka pintu masa depan, bukan berhenti di gerbang kampus karena mahalnya biaya pendidikan.